Kenapa Anak Anda Hiperaktif ?

by admin
0 comment

Inilah rahasia dibalik perilaku anak yang hiperaktif ( atau super aktif, atau atraktif ). Meski ia terlahir dari seorang ibu yang lemah lembut, dan ayah yang super kalem.

Ternyata, ada faktor eksternal, atau penyebab dari luar genetis yang memacu seorang anak menjadi hiperaktif. Dan faktor penyebab itu, selama ini tidak disadari oleh kedua orang tuanya, maupun lingkungannya. Maka, ayah-bunda, ada baiknya melakukan instrospeksi, meneliti kembali seluruh proses pertumbuhan anak, dan pola makannya selama ini.

Karena diketahui bahwa meningkatnya paparan terhadap pestisida, yang juga dikenal dengan organofosfat, telah meningkatkan resiko terjadinya gangguan hiperaktifitas pada anak (ADHD/Attention Deficit Hyperactivity Disorder).

Studi yang dilakukan sekelompok peneliti dari Departemen Pertanian Amerika Serikat mengumpulkan informasi dari sekitar 1000 anak berusia 8 – 12 tahun. Anak-anak dengan kandungan pestisida di atas rata-rata dalam tubuhnya diketahui memiliki kecederungan dua kali lebih besar untuk terdiagnosa mengalami ADHD, atau hiperaktif.

Penelitian ini memang hanya dilakukan untuk mengetahui dampak pestisida dalam jangka pendek. Meski demikian, menurut Mary Bouchard, Ph.D., ketua penelitian sekaligus peneliti di Departemen Kesehatan Lingkungan dan Lingkungan Kerja di University of Montreal, studi lebih lanjut akan dapat mengungkapkan hubungan yang lebih kuat antara paparan pestisida pada produk dalam tubuh dan gejala ADHD pada anak-anak.

Walaupun termasuk ringan, pestisida dirancang untuk menyebarkan racun dalam sistem, yang awalnya bertujuan untuk membasmi hama. Bouchard menyimpulkan, kaitan antara organofosfat dan gejala ADHD terletak pada reaksi otak ketika tubuh terkontaminasi pestisida yang masuk melalui makanan yang berbahan dasar hasil pertanian terpapar pestisida.

Sedangkan gangguan ADHD mengakibatkan seorang anak memiliki tingkah laku impulsif, sulit berkonsentrasi dan hiperaktif. Gangguan perilaku pada anak menyebabkan ia harus berusaha lebih keras untuk melakukan suatu aktifitas dalam kehidupan sehari-hari jika dibandingkan anak-anak seusianya.

Ayah-Bunda, pasti tidak pernah menyadari masalah ini. Bahwa paparan pestisida bukan hanya meracuni lambung, sel darah, tetapi ternyata juga berpengaruf kuat pada saraf-saraf otak, yang mengakibatkan anak-anak kita menjadi hiperaktif. Tetapi penelitian di atas sungguh memberi kesadaran baru, bahwa pestisida yang selama ini kita anggap sebagai sahabat ( terutama bagi kalangan petani ) ternyata musuh besar bagi tumbuh kembang anak.

Tentu kita semua tidak ingin mengorbankan masa – masa pertumbuhan anak dengan hal-hal yang fatal. Sebelum terlambat, sebaiknya kita kembali pada pola makan yang sehat, dan lebih banyak mengkonsumsi makanan organik, yang banyak tumbuh berlimpah di sisi kanan kiri kita.

Mulai dari buah-buahan segar yang tumbuh dan besar tanpa pestisida, makanan berserat tinggi yang tidak harus dipacu dengan pestisida, dan yang paling penting untuk terus diingat, tentu kita akan merasa bersalah seumur hidup, karena membiarkan anak-anak tumbuh dalam keadaaan tidak normal.

Dari mana anak-anak terpapar pestisida, menurut penelitian, ada beberapa kemungkinan. Pertama, karena sejak dalam kandungan bunda, orok sudah terkontaminasi pestisida karena bunda menyentuh langsung atau terpapar pestisida, karena asupan makanan terkontaminasi pestisida dan berujung pada ASI yang menjadi lahan tumbuhnya berbagai penyakit, ketiga anak di masa pertumbuhannya banyak mengkonsumsi makanan tidak sehat dan terkontaminasi pestisida, pula.

Bunda, selamatkan segera anak-anak kita dari bahaya pestisida, dan segera ambil tindakan dengan menghentikan asupan makanan pad anak dari bahan makanan organik. Berdayakan pula lingkungan sekitar kita untuk budidaya tanaman pangan. Inilah rahasia dibalik perilaku anak yang hiperaktif ( atau super aktif, atau atraktif ). Meski ia terlahir dari seorang ibu yang lemah lembut, dan ayah yang super kalem.

Ternyata, ada faktor eksternal, atau penyebab dari luar genetis yang memacu seorang anak menjadi hiperaktif. Dan faktor penyebab itu, selama ini tidak disadari oleh kedua orang tuanya, maupun lingkungannya. Maka, ayah-bunda, ada baiknya melakukan instrospeksi, meneliti kembali seluruh proses pertumbuhan anak, dan pola makannya selama ini.

Karena diketahui bahwa meningkatnya paparan terhadap pestisida, yang juga dikenal dengan organofosfat, telah meningkatkan resiko terjadinya gangguan hiperaktifitas pada anak (ADHD/Attention Deficit Hyperactivity Disorder).

Studi yang dilakukan sekelompok peneliti dari Departemen Pertanian Amerika Serikat mengumpulkan informasi dari sekitar 1000 anak berusia 8 – 12 tahun. Anak-anak dengan kandungan pestisida di atas rata-rata dalam tubuhnya diketahui memiliki kecederungan dua kali lebih besar untuk terdiagnosa mengalami ADHD, atau hiperaktif.

Penelitian ini memang hanya dilakukan untuk mengetahui dampak pestisida dalam jangka pendek. Meski demikian, menurut Mary Bouchard, Ph.D., ketua penelitian sekaligus peneliti di Departemen Kesehatan Lingkungan dan Lingkungan Kerja di University of Montreal, studi lebih lanjut akan dapat mengungkapkan hubungan yang lebih kuat antara paparan pestisida pada produk dalam tubuh dan gejala ADHD pada anak-anak.

Walaupun termasuk ringan, pestisida dirancang untuk menyebarkan racun dalam sistem, yang awalnya bertujuan untuk membasmi hama. Bouchard menyimpulkan, kaitan antara organofosfat dan gejala ADHD terletak pada reaksi otak ketika tubuh terkontaminasi pestisida yang masuk melalui makanan yang berbahan dasar hasil pertanian terpapar pestisida.

Sedangkan gangguan ADHD mengakibatkan seorang anak memiliki tingkah laku impulsif, sulit berkonsentrasi dan hiperaktif. Gangguan perilaku pada anak menyebabkan ia harus berusaha lebih keras untuk melakukan suatu aktifitas dalam kehidupan sehari-hari jika dibandingkan anak-anak seusianya.

Ayah-Bunda, pasti tidak pernah menyadari masalah ini. Bahwa paparan pestisida bukan hanya meracuni lambung, sel darah, tetapi ternyata juga berpengaruf kuat pada saraf-saraf otak, yang mengakibatkan anak-anak kita menjadi hiperaktif.

Tetapi penelitian di atas sungguh memberi kesadaran baru, bahwa pestisida yang selama ini kita anggap sebagai sahabat ( terutama bagi kalangan petani ) ternyata musuh besar bagi tumbuh kembang anak.

Tentu kita semua tidak ingin mengorbankan masa – masa pertumbuhan anak dengan hal-hal yang fatal. Sebelum terlambat, sebaiknya kita kembali pada pola makan yang sehat, dan lebih banyak mengkonsumsi makanan organik, yang banyak tumbuh berlimpah di sisi kanan kiri kita.

Mulai dari buah-buahan segar yang tumbuh dan besar tanpa pestisida, makanan berserat tinggi yang tidak harus dipacu dengan pestisida, dan yang paling penting untuk terus diingat, tentu kita akan merasa bersalah seumur hidp, karena membiarkan anak-anak tumbuh dalam keadaaan tidak normal.

Darimana aanak-anak terpapar pestisida, menurut penelitian, ada beberapa kemungkinan. Pertama, karena sejak dalam kandungan bunda, orok sudah terkontaminasi pestisida karena bunda menyentuh langsung atau terpapar pestisida, karena asupan makanan terkonminasi pestisida dan brujung pada ASI yang menjadi lahan tumbuhnya berbagai penyakit, ketiga anak di masa pertumbuhannya banyak mengkonsumsi makanan tidak sehat dan terkontaminasi pestisida, pula.

Bunda, selamatkan segera anak-anak kita dari bahaya pestisida, dan segera ambil tindakan dengan menghentikan asupan makanan pad anak dari bahan makanan organik. Berdayakan pula lingkungan sekitar kita untuk budidaya tanaman pangan o.

Related Posts

Leave a Comment